Tampilkan postingan dengan label Aneh Dan Unik. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Aneh Dan Unik. Tampilkan semua postingan

Alat Suntik Tanpa Jarum

Sabtu, 07 Juli 2012

Wah, ada metode injeksi tanpa jarum. Para penderita penyakit diabetes maupun penyakit lain yang harus menggunakan suntikan setiap hari, kini tak perlu lagi khawatir dengan sensasi sakit pengunaan jarum suntik.
Belum lama ini, sejumlah ilmuwan dari Massachusetts Institute of Technology, Amerika Serikat, telah menemukan alat untuk menyuntik tanpa menggunakan jarum.
Seperti ditulis Genius Beauty, metode suntik tanpa jarum itu dilakukan dengan gaya Lorentz. Yakni, gaya yang bekerja pada sebuah gerakan muatan partikel dalam medan elektromagnetik.
Nah, untuk menggunakan gaya tersebut, diperlu perangkat yang terdiri dari sebuah botol obat dan magnet kecil berkekuatan besar yang dibuat melingkar dengan kawat yang terbuka. Dengan perangkat tersebut, magnet yang digerakkan bekerja mendorong piston pada alat suntik, lalu menyuntikkan obat dengan kecepatan dan tekanan tinggi.
Tingkat pelepasan obat dari lubang kecil pada ampul tercatat hampir sama dengan kecepatan cahaya. Bahkan, hanya lubang kecil yang terlihat di kulit bekas pengunaan metode tersebut, yang tak menimbulkan rasa sakit sedikit pun.
Hebatnya, jarum suntik untuk menyalurkan obat itu dapat diprogram. Mulai dari penyesuaian dosis untuk obat hingga kedalaman penggunaan obat pada tubuh.
Alat injeksi tanpa jarum ini bukanlah yang pertama bagi dunia medis. Sebelumnya alat seperti itu telah diciptakan, namun kecepatan dan kedalaman injeksi obatnya belum bisa dikendalikan.
Setelah sukses menciptakan alat injeksi untuk obat berbahan cair, para ilmuwan tersebut berencana menciptakan alat injeksi untuk obat bubuk. Dengan kehadiran metode tersebut, anak-anak yang takut akan jarum suntik maupun pengguna jarum suntik harian tak akan lagi merasa tersiksa menggunakannya.
Continue Reading | comments

Wow! Ada Bunga Bangkai Tumbuh di Rumah Warga di Cipinang Muara

Rabu, 15 Desember 2010

Bunga bangkai merupakan salah satu tanaman langka yang hidup di Sumatera. Namun tak dinyana, bunga yang menyebarkan aroma yang menyengat itu ternyata bisa tumbuh juga di rumah warga di Jl Pembina No 5 RT 13 RW 2 Kelurahan Cipinang Muara Kecamatan Jatinegara, Jaktim.

Sa'ari, yang rumahnya ditumbuhi bunga bangkai itupun sama sekali tak menyangka. Bunga bangkai itu ternyata sudah tumbuh sejak sebulan yang lalu.

"Awalnya saya curiga paving block rumah terangkat. Waktu saya lihat ternyata ada tanaman yang tumbuh. Saya nggak tahu pohon apa. Saya biarkan saja tumbuh besar," ujar Sa'ari di rumahnya.

Selama seminggu dibiarkan, lanjut Sa'ari, bunga bangkai itu sudah memiliki ketinggian hingga 50 cm. Bunga bangkai itu pun masih belum menarik perhatian Sa'ari. Hingga akhirnya Selasa (14/12) sore sekitar pukul 16.00 WIB, selepas salat Ashar, Sa'ari mengaku mencium aroma bau bangkai di rumahnya.

"Saya cari kemana-kemana takutnya ada bangkai tikus. Tapi nggak ada. Pas di halaman baunya makin dekat. Ternyata muncul dari bunga," ujarnya.

Menurut Sa'ari, bunga itu itu banyak dikerumuni lalat. Dari sore hingga malam, bau bangkai bunga tersebut sangat menyengat hingga ke belakang rumah. Padahal sebelumnya baunya tidak pernah tercium.

"Saya mengira mungkin itu bunga bangkai. Lalu anak saya telepon camat bilang ada bunga bangkai di rumah. Camat lalu datang dan meminta saya memagari bunga tersebut. Katanya itu bunga langka," tandasnya.

Hingga pagi tadi, rumah Sa'ari pun mulai dikerumuni warga. Warga penasaran ingin melihat langsung bunga bangkai yang ditumbuh di rumah Sa'ari. Bunga bangkai tersebut terletak di halam rumah Sa'ari.

Bunga tersebut sudah dipagari Sa'ari dengan bambu-bambu. Di dalamnya pun ditulisi 'Jangan disentuh! Jarak lihat maksimal 2 meter'. Meski begitu warga terus menyaksikan bunga langka tersebut sambil mengambil foto melalui telepon seluler.

Sa'ari mengaku tidak akan menjual bunga ini meski nantinya ada yang menawar. "Saya mau pertahankan dulu. Kalau dijual nggak dulu. Lagian ini bunga langka," tutupnya.

sumber : detik.com
Continue Reading | comments

Sop tulang kuno ditemukan di Cina

Tim arkeolog Cina meyakini mereka telah menemukan satu periuk sop yang diperkirakan berusia 2.400 tahun di dekat ibukota kuno Xian.

Cairan dan tulang berada di dalam bejana perunggu yang tertutup rapat dan para arkeolog mengatakan mereka sedang meneliti bumbu-bumbu yang digunakan.

"Ini merupakan penemuan pertama terkait penemuan sop tulang dalam sejarah arkeologi Cina," kata Liu Daiyun dari Institut Arkeologi Provinsi Shaanxi seperti dikutip Global Times.

Periuk sop ini ditemukan di pusara yang digali untuk pembangunan perluasan bandar udara setempat.

"Penemuan ini akan memainkan peran penting dalam mempelajari kebiasaan makan dan kebudayaan pada Periode Perang Negara-negara Bagian (475-221 sebelum Masehi," tambahnya.

Para arkolog juga menggali periuk perunggu lain berisi cairan tanpa bau yang diyakini anggur.

Xian pernah menjadi ibukota kuno selama lebih dari 1.100 tahun.

Pada 1974, tim arkeolog menemukan tentara terakota di tempat pemakaman Qin Shihuang, kaisar pertama Cina. Dia berhasil menyatukan Cina pada 221 sebelum Masehi dan memerintah sampai 210 sebelum Masehi.

Makam Kaisar Qin yang sangat terkenal di dunia itu dikawal oleh sekitar 8.000 patung tentara terakota, 130 kereta kuda, 520 kuda dan 150 kuda kavaleri yang diyakini akan melindungi sang kaisar di alam baka.

sumber : bbc.co.uk
Continue Reading | comments

Bendera Jenderal Custer laku Rp19 miliar

Sabtu, 11 Desember 2010

Sebuah bendera panji pertempuran yang dibawa Letnan Jenderal George Armstrong Custer dan pasukan kavaleri ketujuhnya dalam pertempuran Little Big Horn laku terjual sebesar Rp 19 milar lebih di balai Lelang Sotheby's New york.

Dalam pertempuran yang terjadi di Negara Bagian Montana, Amerika Serikat tahun 1876 tersebut, bendera itu adalah satu-satunya lambang-lambang militer yang tidak hilang atau direbut lawan dalam pertempuran yang merupakan bagian dari Perang Besar Sioux 1876-1877 itu.

Sebelum terjual, bendera itu ditawarkan dengan harga permulaan AS$ 5 juta atau lebih dari Rp 45 miliar. Bendera bersejarah itu akhirnya dibeli oleh seorang kolektor asal Amerika Serikat.

Meski harga yang diperoleh jauh di bawah tawaran awalnya, namun Rp 19 miliar sangat jauh selisihnya jika dibandingkan dengan harga awalnya. Pemilik sebelumnya adalah Institut Seni Detroit yang sudah menyimpan bendera itu sejak 1895. Saat itu, bendera bersejarah tersebut hanya AS$ 54 atau sekitar Rp 500.000 saja.

"Kami akan pergunakan uang hasil penjualan bendera itu untuk memperkaya koleksi seni asli Amerika kami," kata Direktur Museum detroit Graham Beal.

Jenderal Custer dan sekitar 200 orang prajuritnya terbunuh saat menghadapi ribuan pejuang suku Indian Lakota Sioux dan Cheyenne Utara yang dipimpin Sitting Bull dan Crazy Horse. Pertempuran itu terjadi akibat upaya Jenderal Custer untuk merebut wilayah Black Hills ke pangkuan pemerintah Amerika Serikat.

Bendera itu ditemukan di bawah jasad seorang prajurit Amerika yang tewas dalam pertempuran Little Bighorn atau dalam versi pemenang perang disebut Pertempuran Greasy Grass Creek.

Bendera itu kemudian dinamakan panji-panji Culbertson sesuai dengan nama Sersan Ferdinand Culbertson yang menemukan bendera itu di medan pertempuran.

sumber : bbc.co.uk
Continue Reading | comments

Puluhan Tahun Hidup dengan Hidrosefalus

Jumat, 10 Desember 2010

Selama 25 tahun, seorang gadis di Desa Kutoporong, Kecamatan Bangsal, Kabupaten Mojokerto, Jatim, menderita hidrosefalus. Alhasil, ia hanya bisa berbaring di tempat tidur karena tubuhnya amat kurus.


This text will be replaced





sumber : Liputan6.com
Continue Reading | comments

New Post

Shoutbox

CLICK DOLLAR HERE

JOIN and GET 25 $ CASH
Join Now
  • Get $25 to start
  • Earn up to $20/day
  • Earn $10 per referral
 
Support : Anas Arema.co.nr | Maya Chentil.co.nr | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011. Blog Berita Dan Info Online - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger