Home » » Jamu RI Kalah Pamor dengan Jamu Malaysia

Jamu RI Kalah Pamor dengan Jamu Malaysia

Para pelaku industri jamu saat ini mengakui pamor jamu Indonesia terus semakin pudar, bahkan telah disalip negeri jiran Malaysia. Bahkan yang menyedihkan lagi banyak ahli jamu asal Indonesia dibajak oleh negara lain seperti dari Korea.

Ketua Umum GP Jamu Charles Saerang menuturkan meski tahun 2010 ini penjualan jamu dan produk pendukungnya bisa naik 15% menjadi Rp 10 triliun. Sayangnya, nilai tersebut tetap saja kalah dengan penjualan jamu di Malaysia yang sudah tembus Rp 15 triliun, padahal Malaysia penduduknya jauh lebih sedikit dari Indonesia.

"Masak Malaysia saja Rp 15 triliun, malu dong. Ada kepincangan dalam pengembangan jamu, pemerintah kita masih kurang berani men-support," kata Charles Sabtu (4/9/2010).

Charles menuturkan saat ini Malaysia juga sudah cukup gencar mengembangkan industri jamunya. Dahulu di Malaysia tak pernah dikenal istilah jamu, namun istilahnya adalah obat kampung.

"Apalagi sekarang ramai 'jamu' oplosan, mereka makin yakin menyatakan jamunya lebih aman, sedangkan jamu kita sebagai produk yang berbahaya," katanya.

Sehingga ia mengharapkan kepada pemerintah untuk segera memperhatikan dan melakukan pembinaan terhadap industri jamu khususnya skala kecil. BPOM juga sebagai pengawas produk obat-obatan harus rajin melakukan aksi nyata di lapangan khususnya terhadap produk jamu ilegal.

"Kalau dibiarkan kredibilitas kita turun. Bagaimana masyarakat cinta dan mau meminum jamu," katanya.

Nasib jamu Indonesia, bukan hanya didera oleh masih banyaknya jamu ilegal dan serbuan produk jamu impor. Namun faktanya, lanjut Charles, banyak tenaga ahli jamu Indonesia dibajak oleh perusahaan penelitian asing untuk dipekerjakan dengan tawaran gaji sangat besar dan fasilitas wah.

"Hasilnya ahli temulawak kita lari ke Korea Selatan. Alasannya, sekarang sudah era globalisasi, saya tak diopeni oleh IPB," ucap Charles menirukan ahli temulawak tersebut.
Get cash from your website. Sign up as affiliate.
Dikatakan Charles modus perusahaan penelitian herbal dari Korea biasanya mengirim tenaga ahlinya ke Indonesia lalu mengembangkan produk-produk jamu Indonesia di negeri ginseng tersebut. Tanaman-tanaman unggulan Indonesia seperti temulawak, pegagan, sambiloto dan kencur banyak diangkut ke Korea.

"Kalau di sini harga tanaman obat itu murah, akibatnya petani nggak ada yang mau menanam," katanya.

Padahal di negara seperti Korea, tanaman obat asli Indonesia dikembangkan menjadi produk yang punya nilai jual tinggi. Nilai tambahnya dari hanya sekedar bahan baku menjadi produk obat bisa mencapai nilai tambah hingga 10.000%.

Share this article :

0 comments:

 
Support : Anas Arema.co.nr | Maya Chentil.co.nr | Maskolis | Johny Portal | Johny Magazine | Johny News | Johny Demosite
Copyright © 2011. Blog Berita Dan Info Online - All Rights Reserved
Template Modify by Creating Website Inspired Wordpress Hack
Proudly powered by Blogger